Pulanglah Ayah, Peluk Gadis Kecilmu…

Bagi yang memiliki anak gadis pasti akan tau bagaimana prilaku anak-anak cantik itu terhadap ayah mereka. Cinta dan manja yang berlebihan dibanding terhadap ibunya. Mereka akan bersikap selayaknya sepasang kekasih yang saling menunggu dan saling merindu. Bahkan terhadap ibunya sendiri terkadang mereka tampak cemburu.

Setidaknya itulah yang terjadi terhadap anak-anakku. Mereka akan langsung menyela jika melihat ayah dan ibunya sedang berdua saja.

Sang ayahpun perlu waktu lebih banyak dalam menjelaskan kepada anak perempuannya ketika terlambat pulang10 menit saja, daripada menjelaskan kepada ibunya.

Ketika sampai didepan pintu, anak-anak itu sudah menyambut dengan teriakan penuh keceriaan.

Tanpa ampun mereka akan langsung membombardir beragam pertanyaan, mengintrograsi penuh selidik kenapa ayah mereka pulang terlambat.

“Ayah kemana dulu, ayah ngapain dulu, ayah sama siapa, kenapa baru pulang”. Mulut kecil itu terus nyerocos tanpa henti ingin tau seluruh yang dilakukan ayah pada hari itu.

Mereka sama sekali tak perduli bahkan sekalipun ayah yang sangat dicintainya itu kelelahan setelah bekerja.

Kadang-kadang aku berusaha melerai agar ayah beristirahat baru setelah itu anak-anak boleh main bersama lagi, tapi suamiku justru tidak suka dengan sikapku.

“Aku bekerja kan untuk anak-anak, kenapa ketika pulang ga boleh bersama mereka? Kalau bertemu mereka capekku sudah hilang.” Serunya dengan menggendong adek yang sebenarnya sudah tidak kecil lagi.

“Tapi mereka itu terlalu manja.” Kataku.

“Mereka kan anak-anak ya harus manja, kalau kamu yang manja itu baru nyebelin”. Ucapnya serius…

“Uuhh Yaudah…” Mulutku monyong sambil ngeloyor pergi meninggalkan mereka.

Aku hanya bisa memandang dengan penuh rasa Syukur, beruntung sekali kamu nak…

Betapa banyak anak-anak lain yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayahnya, di karenakan oleh apapun.

Nyeri membayangkan ayah mereka tidak pernah pulang, apalagi jika mereka mengetahui bahwa kekasih pertamanya itu sedang bersama perempuan selain ibunya.

Bagaimana jika mereka menyadari bahwa sang ayah tidak pulang bukan karena telah pergi kepada Allah, bukan karena bekerja, bukan karena bertugas? Tapi karena sedang bersama seorang yang telah menyakiti hati ibunya?

Rindu yang mengiris, cinta dan mencengkeram, tetapi sang ayah asyik masuk menikmati indahnya waktu bersama wanita lain.

Wahai para Ayah, bisakah Engkau merasakan apa yang anak-anakmu itu derita?

Apakah dia bisa menganggap semuanya biasa saja karena bukan urusannya?

Apakah anak-anak perempuan itu bisa memaafkan begitu saja?

Apakah dia bisa tiba-tiba berbakti kepada orang tua khususnya ayahnya?

Apakah dia bisa serta merta menghargai suaminya kelak?

Orang tua memang memiliki hak untuk mendapatkan bahagia, tapi anak-anak? Apakah tidak memiliki hak untuk berbahagia juga? Sementara kebahagiaan mereka adalah ketika dapat berkumpul dengan kedua Orang tuanya?

Jangan salahkan jika besar nanti mereka lebih suka sesama jenis, jangan dihujat ketika kelak dewasa dia tidak pernah cukup dengan satu lelaki, jangan sakit hati jika teman mereka bukan lagi kebaikan tapi maksiat dan narkoba.

Karena luka hati yang sedemikian dalam yang dirasakan oleh seorang anak akan memiliki resiko cacat mental yang lebih besar. Memang tidak semua, tapi begitulah kebanyakan yang terjadi.

Tau nggak wahai para ayah? Cinta seorang anak perempuan terhadap ayahnya itu sangat tidak masuk akal. Bagi mereka ayah adalah kekasihnya, miliknya, cinta pertamanya. Pelukan dan nasihat seorang ayah adalah bekal pondasi dan kekuatan bagi mereka dalam menghadapi dunianya kelak.

Jika mereka tidak pernah mendapatkan pelukan dari ayah, terlebih tidak pernah berkomunikasi, apakah ia bisa menjadi wanita yang seharusnya.

Ilustrasi

Jangan tiba-tiba anak mendapatkan beban bahwa mereka harus menjadi anak manis yang berbakti dan kelak besar menjadi wanita sholiha, ketika tidak ada peran ayah dalam mewujudkan semuanya, sungguh naif  sekali.

Selalu ada seribu satu alasan bagi laki-laki untuk pergi, tapi cukup satu alasan untuk tetap bertahan dalam keluarganya yaitu seorang anak perempuan. Ingatlah ayah bahwa engkau kelak yang akan menanggung dosa anak-anak perempuanmu jika engkau tidak memberi mereka kebaikan dan nasihat.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. Al-Tahrim : 6)

Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Setiap kalian ra’in (penanggung jawab) dan masing-masing akan ditanya tentang tanggungjawabnya. Penguasa adalah penanggung jawab atas rakyatnya, dan akan ditanya tentangnya. Suami menjadi penanggung jawab dalam keluarganya, dan akan ditanya tentangnya.” (Muttafaq ‘Alaih)

Pulanglah Ayah, peluk gadis kecilmu…