Buatlah Suami Tak Mau Meninggalkanmu

Hari ini aku membuka lembar demi lembar foto lama ketika menikah dulu, pasanganku lumayan juga ternyata haha…

Sempat lupa bahwa dia pernah begitu sempurna dimasa lalu sehingga aku bersedia menyerahkan diri padanya, eh! 🤭

Ini adalah tahun ke 16 aku bersamanya, hari yang ke 5600-an kurang lebih, melewati banyaknya ujian dan kebahagiaan dalam rumah tangga.

Setiap pagi menjelang, suara ayam mulai terdengar berkokok pertanda aktifitas  hari itu sudah bisa dilakukan. Aku membuka mata dan merasakan dunia yang berbeda, ada seseorang yang rela selalu berada disampingku.

Bersamanya merajut hari-hari dengan penuh mimpi, mimpi akan bahagia selamanya, mimpi akan masa depan yang lebih indah, mimpi tentang anak-anak yang akan hadir dengan penuh ceria.

Hari-hariku luar biasa meskipun setiap hari melihat wajah yang sama, keadaan yang sama, pola hidup yang sama.

Namun itu tidak bertahan lama semuanya tiba-tiba berubah, entah siapa yang berubah tapi dia mulai membosankan dia sudah tak semanis dulu, disisi lain dia juga tidak berubah pada hal-hal yang tak kusukai.

Persoalan hidup mulai bermunculan, kebutuhan hidup mulai tak terbayarkan, keluarga, teman mulai menambah persoalan, hidup terasa kering dan kurang.

Hari dan tahun berlalu, tiba-tiba ada banyak debt collector yang datang, kita mulai saling tuding siapa yang telah menghabiskan banyak uang. Satu persatu harta tergadai dan terjual entah bagaimana.

Tanpa sengaja kita mulai membanding-bandingkan pasangan orang lain, tak adil rasanya memiliki pasangan yang sekarang dia tak seperti yang kubayangkan.

Kita yang dulu malu jika berkata-kata tinggi tiba-tiba menjadi super power, pertengkaran sudah tak bisa terelakkan, masing-masing memiliki pendapatnya sendiri, lalu pandangan hidup baru menjadi pegangan bahwa kita sudah tak lagi sepaham, kita sudah tak ada kecocokan. Di dalam rumah terasa asing, sudah tidak menarik lagi duduk bersama, makan bersama, sudah tak ada gairah berbicara dengannya, kita seperti bermain kucing-kucingan didalam rumah sendiri.

Dan kalau sudah seperti itu, apa pilihannya? Lebih baik kita hidup masing-masing, BERCERAI!! Untuk apa hidup bersama jika tak bahagia. Kehadiran anak sama sekali tak mampu lagi menjadi pengikat hubungan kita.

Kadang tersadar, sebenernya dia laki-laki yang baik tapi entahlah, kita sudah tak lagi sepaham. Konflik terus ada membuat pikiran dan perasaan tak bisa bertahan selalu dalam prasangka, penerimaan dan kebahagiaan terasa sudah hilang. Seandainya kapal yang sedang berlayar sepertinya sudah tak tentu arah, oleng dan hampir tenggelam.

Tapi itu dulu…

Baca Juga:

Tempat Nongkrong Paling Hits Murah Meriah, Kopi Ingkar Janji

Mengenal Jogja Jaman dulu, Puri Mataram Yogyakarta

Berhijab Itu Asik dan Aman

Super konyol ketika menggambarkan masa-masa itu, lima tahun pertama kata orang adalah masa yang berat dalam sebuah pernikahan. Tapi tidak bagiku, aku perlu waktu lebih lama untuk bisa beradaptasi dengan suamiku. Padahal dia bukanlah orang baru, aku sudah mengenalnya 10 tahun sebelum akhirnya kita memutuskan untuk menikah, tapi ternyata perlu waktu 10 tahun juga setelah menikah untuk bisa saling paham.

Pernikahan
Pernikahan Bahagia

Hari ini aku hanya ingin mengingat, barangkali suatu saat bisa menjadi nasihat, untuk anak-anak kami kelak, agar mereka mampu bertahan dalam kebahagiaan rumah tangganya.

1. Stop to Say Deforce!!

Ini adalah kata-kata haram dalam sebuah pernikahan, jangan pernah ucapkan meski apapun keadaannya, apapun!

Sepertinya ini adalah kata-kata kebanggaan para wanita ketika manja atau ketika marah dengan pasangan. Percayalah sebaik apapun keadaan rumah tanggamu, se-sholeh apapun suamimu, ketika kata-kata ini sering kamu ucapkan maka cepat atau lambat akan terjadi. Wanita yang tak bisa menahan diri dari kata cerai, akan terus memicu pertengkaran dalam rumah tangga, akibatnya dia akan terus mengalami perceraian. Ga usah memancing keributan, ga usah memancing pasangan dengan ucapan-ucapan cerai, it’s haram!

Apalagi lelaki, sangat berbahaya kalau dia ga mampu menahan kata-kata ini, sekali saja terucap kepada istri maka haram hukumnya tidur bersama, it’s real divorce!

2. Muhasabah (Introspeksi Diri)

Kata ini adalah yang paling menyakitkan dari seluruh nasihat yang pernah ada. Introspeksi adalah bagian tersembunyi dari seseorang. Kita harus mau menyelam melihat kedalam diri sendiri jauh ke dalam relung hati, kenapa masalahnya serumit ini? Apakah aku salah? Jangan-jangan aku yang salah? Jangan-jangan aku yang sudah membuat semua ini terjadi? Bagaimana aku memperbaiki diri? Aku hanyalah manusia, banyak keputusan yang kuambil dengan nafsu, banyak kata-kata yang terucap dengan rasa marah, apakah mungkin menghasilkan keputusan yang baik? Pasti ini salahku, aku harus memperbaiki diriku bukan memperbaiki orang lain. Ya Allah aku berusaha mengingat firmanMu:

“Kebajikan apa pun yang kamu peroleh adalah dari sisi Allah dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu (Muhammad) menjadi Rasul kepada (seluruh) manusia. Dan cukuplah Allah yang menjadi saksi.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 79)

Dan ketika kamu tak berdaya memberbaiki keadaan, tak punya kekuatan untuk menghapus kesalahan maka hanya satu kata yang terus terucap, astaghfirullah ampuni aku ya Allah…

Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”(HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

Mungkin ini adalah puncak dari segala keresahan, lelah menyalahkan pasangan, lelah menyalahkan semua orang, aku sungguh tak mampu membuat semua berubah lebih baik. Aku benar-benar hampir gila karena tekanan, depresi, aku menyerah. Beruntunglah aku menyerah kepada Dzat yang tepat yang selama ini lupa ku ingat. Dialah Allah yang tak pernah aku anggap sebagai tempat mengadu. Ketika tak seorangpun mampu menjadi penolong baru tersadar bahwa aku masih punya Allah yang Maha menjaga, yang Maha melihat dan mau mendengarkanku, Dzat yang paling bisa menolongku, maka kepadaNyalah akhirnya aku kembali. Memohon ampun atas kesalahan-kesalahanku dan memohon agar Dia membaiki hidupku yang hampir roboh.

3. Jangan Menggantungkan Bahagimu pada Pasangan. 

Nikah itu ibadah, nikah itu sedekah, jangan mengharapkan balasan bahagia dari pasangan, percayalah bahwa dia tak mampu membahagiakan dirinya sendiri bagaimana kamu berharap dia akan membahagiakanmu? Sadarilah bahwa pasanganmu hanyalah manusia yang sama seperti dirimu. Diapun butuh di bahagiakan. Jangan menghitung kebaikan yang pernah kita berikan kepada pasangan, percayalah dia tidak akan sanggup membayar kebaikanmu padanya, demikian juga dia pasti juga merasa sudah cukup berbuat sebaik-baiknya padamu, maka sangat naif jika kamu meminta balasan kebaikan sepadan dengan kebaikanmu padanya, minta gantilah hanya kepada Allah saja. Kebaikan hanya layak di berikan dengan keikhlasan karena hanya Allahlah sebaik-baiknya Pemberi balasan.

“Ketika kamu mulai menyandarkan bahagimu pada pasangan maka pada saat itulah kehancuran hubunganmu sedang dimulai.”

4. Mendekatlah pada Sang Pencipta

Ini yang paling penting diantara ribuan teori tentang pernikahan, ketika engkau dekat dengan penciptamu, tiba-tiba semua menjadi mudah. masalah hanya sekumpulan puzzle yang berserakan, dan ketika engkau mengadukan seluruh keadaanmu kepada Allah, tiba-tiba puzzle itu mulai tersusun dalam posisinya masing-masing tanpa rasa sakit karena di paksa. Bukan hanya masalah rumah tangga yang terselesaikan namun seluruh keadaan akan menjadi semakin baik.

Ketika hidup tak ada jalan keluar kemana lagi akan mengeluh, Sama sekali tak ada pilihan kecuali bersahabat dengan Robb Sang Pencipta Alam, mengadulah padaNya, menangislah atau bahkan marah atas segala yang menimpa.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu. (QS. At Thalaq: 2-3).

5. Berbakti pada orang tua

Ini bukan sekedar kata-kata klise ya, tapi hari itu seorang kerabat datang memberikan dukungan. Ada satu nasihat yang sama sekali tidak pernah terfikirkan, “Kamu sibuk memikirkan dirimu sendiri, pikirkan orang tuamu, doakan mereka”.

Jleb! Kata-kata itu menghujam ke jantungku, aku merasa bahwa selama ini telah berdoa untuk orang tua, tapi benar bahwa aku tidak pernah memikirkannya, mungkin doaku hanya sebatas di bibir saja apalah artinya? Ternyata banyak perintah Tuhan yang tak kujalankan.

Sejak saat itu aku mulai mengalihkan perhatian dari persoalan-persoalan hidupku, aku mulai sibuk mendoakan kebaikan untuk kedua orang tuaku yang telah tiada. Sedikit harta yang bisa dikeluarkan untuk sedekah, di niatkan untuk kemuliaan mereka. Entah kenapa aku merasa begitu berdosa. Dulu ketika masih ada aku hanyalah seorang anak yang manja dan ketika tiada, tak ada apapun yang sudah kuberikan padanya. Mungkin dulu doaku hanya sebatas kata, tak benar-benar berterimakasih atas apa yang sudah mereka berikan padaku. Inilah saatnya aku berdoa dengan sepenuh jiwa, memintakan ampunan pada Allah atas segala dosa-dosanya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”(QS. Luqman 31: Ayat 14)

Bagi kalian yang masih memiliki orang tua, ini adalah kesempatanmu berbakti pada mereka. Serumit apa hubunganmu dengan ibu bapakmu, serumit itu jugalah persoalan hidupmu. Perbaikilah, merendahlah dan patuhlah pada mereka, bahagiakan dan muliakan mereka, maafkan kesalahannya, niscaya keruwetan hidup akan terurai dengan sendirinya.

6. Ihlas dan Syukuri Keberadaan Pasangan

Ini adalah ilmu yang pontang panting aku dapatkan dari kehidupan. Seminar, pelatihan, konseling Alhamdulillah ada hasilnya, bahkan ketika tak ada sepeserpun uang yang kamu pegang, kamu tetap berusaha untuk bisa mengikuti sebuah  pelatihan atau apapun yang bisa memperbaiki dirimu dan cara berpikirmu tentang hidup. Entah dari mana asalnya tiba-tiba Allah memberi cara untuk bisa memperjalankanku dalam sebuah pelatihan yang nilainya jika di hitung bisa sampai puluha  juta rupiah, hanya untuk belajar bersyukur.

Menjadi pribadi yang bersyukur ternyata tak mudah, tak terkecuali aku. Tak terfikirkan bahwa Allah telah memberikan begitu banyak dalam hidup ini, namun selama ini aku hanya melihat sebuah kekosongan, kekurangan dan rasa yang tak pernah cukup.

Memiliki suami adalah anugerah, ada ribuan bahkan jutaan orang di dunia yang berharap memiliki pasangan, bagaimana mungkin kamu tak mensyukuri pemberian Tuhan ini. Syukuri kesehatannya karena jika dia sakit kamupun pasti akan kerepotan meski hati kita tak sreg lagi dengannya. Syukuri masa lalu yang indah, karena keindahan itu tak bisa kamu bayar dengan berapapun uang yang kamu punya. Syukuri anak-anakmu, karena kesalahan suami tak akan sebanding dengan kehadiran anak-anak yang sudah lahir dari sebagian dirinya. Syukuri dia secuil pun kebaikannya. Sadarilah bahwa dia hanya manusia biasa, penuh kesalahan dan kekurangan. Fokuskan pada kebaikannya, catat dalam buku diarymu, ucapkan dalam doa-doamu.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (Qs. Ibrahim: 7).

7. Ridho atas ketetapan Allah

Jika anda adalah seorang wasit, tentu anda punya aturan yang wajib diikuti oleh peserta pertandingan, tidak boleh ini atau itu, bolehnya ini atau itu. Jika peserta tidak mengikuti aturan beberapa kali otomatis mendapatkan peringatan, masih ngga mengikuti aturan pasti peserta tersebut dikeluarkan dari arena pertandingan.

Mungkin demikian juga yang terjadi padaku, Allah sudah mengatur kehidupan sedemikian rupa, menyuruh dan melarang manusia untuk melakukan sesuatu. Tapi apa jadinya jika kita hidup dalam aturan kita sendiri? Berjalan sesuai alur yang kita buat sendiri? Pasti hasilnya akan berantakan. Kalau Allah mengeluarkan kita dari barisanNya kemana kita akan berpijak sedangkan langit, bumi dan seluruh isinya adalah milikNya.

Akhirnya kamu tidak akan punya pilihan lain selain mengikuti aturanNya, jika kamu masih mau hidup dalam kebaikan dan ketenangan.

Ridholah atas kesalahan yang terjadi, ridholah atas ketetapanNya akibat kesalahan yang terjadi, ridholah dengan keadaan suami yang telah di berikanNya dan ridholah pada perintah-perintah Allah serta larangan-laranganNya, Ridholah kepada Allah SWT. Percayalah hidupmu tak akan baik tanpa ridho dari Allah SWT.

Aku bahkan tak percaya pada tumpukan buku tentang teori-teori pernikahan, saling pengertian, saling menghargai, saling memberi, omong kosong… Jika kamu tak mendekat pada Robbmu, jika Allah tak Ridho padamu, kamu tidak akan mampu menjalani seluruh teori-teori itu.

Dari Aisyah RA, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridha Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridha manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.”

(HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276)

8. Laksanakan Sunnah Rasulullah Saw

Coba ingat-ingat, kapan terakhir kamu membuka dan membaca Al-Qur’an, kapan terakhir kamu sholat tahajud, kapan terakhir kamu puasa Sunnah? Kapan terakhir kamu bersedekah? Kapan terakhir kamu berdzikir memuji Allah?

Coba lihat seberapa banyak yang sudah kamu lakukan?

Jika kamu tak juga rutin melakukannya, bagaimana kamu mengharapkan kedamaian dalam hatimu?

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Setan berlari dari rumah yang dibacakan surah Al Baqarah di dalamnya”.

(HR. Ahmad).

“Perumpamaan rumah yang di dalamnya ada zikrullah dan rumah yang tidak ada zikrullah di dalamnya ialah seperti orang yang hidup dan orang mati”. (HR. Muslim).

Ketika tak ada bacaan Al-Qur’an maka jangan heran jika rumahmu di penuhi dengan kemarahan karena syetan hadir menambah panas suasana.

Dan seumpama orang mati berada tinggal bersama orang mati, apa yg bisa di lakukan selain kebaikan dalam keluarga itupun akan mati?

9. Maafkan dan doakan

Tanyakan juga dalam hatimu, kapan terakhir kamu mendoakan pasanganmu? Bukankah kita selama ini hanya sibuk berdoa untuk diri sendiri? Doa adalah senjatanya orang mukmin, maka mendoakan pasangan sama dengan memberinya penghalang agar dia terlindungi dari berbuat maksiat, agar Allah menjaganya dari kesulitan dalam pekerjaan, agar Allah memudahkan segala kebaikannya. Doakanlah juga agar Allah memberikan kebahagian, karena jika dia bahagia dan tenang dia akan menularkan bahagianya padamu.

Tak ada manusia yang sempurna, tak akan ada manusia yang tak menyakiti orang lain, juga tak ada manusia yang tak pernah tersakiti, maka maafkanlah pasangan. Kamu bisa memaafkan orang lain kamu pasti lebih bisa memaafkannya. Kamu adalah pasangannya jika bukan kamu yang berdoa untuknya, lalu siapa? Kamu adalah pakaian untuknya jika bukan kamu yang menutupi kekurangannya, lalu siapa? Mintalah, mintalah, mintalah pertolongan hanya kepada Allah.

Aku tak mau berlelah membahas tentang bagaimana caranya menambah pendapatan agar bisa membayar hutang-hutang, tapi percayalah mendekatkan diri kepada Sang Kholik membuat hati kembali hidup, kebahagiaan kembali datang, solusi tiba-tiba hadir, peluang-peluang menjadi ada dan cintapun kembali tumbuh, lebih baik lebih tenang dan lebih menyenangkan.

Jika dengan 9 cara diatas tak berhasil membuat pasangan bertahan, lepaskanlah! Ihlaskan, sudah waktunya mengembalikan pinjaman yang sudah Allah berikan. Tetap berprasangka baik bahwa segalanya akan berubah, pengalaman yang panjang sudah seharusnya membuat kita banyak belajar dan berbenah, yakinklah jika kita tetap melaksanakan 9 cara itu, Allah akan memberikan ganti yang jauh lebih baik.

Lagipula dalam QS. An-Nur Ayat 26 Allah SWT berfirman :

Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).

Maka percayalah bahwa Allah lebih tau kepada siapa kita akan di pasangkan, yakinlah bahwa dengan kita memperbaiki diri, memantaskan diri, kelak Allah akan memberikan pasangan yang baik pula.

Kali ini bersyukur kepada Allah yang telah hadirkan hati yang semakin lapang, tak perduli berapa banyak masalah yang menimpa, tak perduli seberapa banyak cobaan yang datang mendera, ada Allah diantara kita yang siap mendengar dan menolong setiap permohonan hambaNya, tak perlu khawatir lagi.

Selamat bertumbuh dalam kesabaran, kebahagiaan dan keikhlasan dalam menjaga cinta bersama pasangan halal.

Bahagia selamanya
Semoga bahagia selamanya

Perjalanan kamipun masih panjang, masih banyak yang harus di benahi dan di pelajari agar diri dapat lebih mengerti, agar diri ini bukan hanya bahagia sendiri namun juga bermanfaat bagi orang lain, ijinkan kami melanjutkan perjalanan setelah yang ke 16 tahun, mudah-mudahan Allah ijinkan kita bersama berpuluh-puluh tahun selanjutnya, hingga Allah sampaikan kita sekeluarga ke JannahNya ❤

Artikel menarik :

Inflasi Sangat Tinggi, Barang semua Naik, Harus Bagaimana?

Agar Anak Mudah Menerima Nasihat

Cara Mudah Mengajak Anak Berhijab