Inspiration Social activities Uncategorized

Berbagi Itu Indah

Selalu menyisakan kisah pilu sekaligus bahagia ketika blusukan untuk melakukan BAKSOS.

Hari itu aku mengantar seorang sahabat untuk memberikan bingkisan bakti sosial yang diamanahkan oleh SDIT Anak Sholeh SEDAYU, kemana lagi jika bukan ke daerah-daerah yang cukup sulit dijangkau juga kerumah-rumah para dhuafa.

Banyak cerita yang menguras air mata ketika menyimak kisah-kisah mereka.

Lihat saja Mbah Radi Utomo dan Mas Slamet

Seorang Kakek yang sudah berusia 80 tahun hidup hanya berdua dengan anak lelakinya yang lumpuh sejak kecil.

Meski sudah sepuh dan tak mampu lagi untuk bekerja sebagai buruh, semangat sang kakek sungguh luar biasa. Beliau sangat rajin beribadah di masjid dalam sholat lima waktunya.

Beliau memiliki 5 orang anak dan 7 orang cucu. Keempat anaknya telah berumah tangga, kecuali Mas Slamet sang anak kedua yang lumpuh. Mereka hanya hidup berdua karena istri Mbah Radi telah meninggal dunia sejak anak bungsunya masih kecil.

Mas Slamet adalah seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun yang tergolek lemah diatas dipan reot yang keras, tanpa kasur atau bantal empuk sebagaimana seharusnya, tak dapat duduk ataupun berdiri untuk berjalan. Bahkan dia sudah berada ditempat tidur itu sejak usia 7 tahun, artinya dia sudah 33 tahun tidak beranjak dari sana, kecuali mandi.

Selama sekian puluh tahun ini dia hanya terbaring tak berdaya menunggu sang ayah yang sudah renta menyuapinya, menggendongnya ke kamar mandi atau kemanapun yang mungkin dia inginkan.

Dia sungguh laki-laki yang malang, memegang sendokpun dia tidak mampu sehingga dia sangat bergantung pada suapan sang ayah, satu-satunya orang yang menemaninya didalam rumah berlantai tanah itu. Tanpa radio, TV apalagi kulkas.

Namun yang paling meyedihkan bukan hanya tentang keadaannya yang penuh perjuangan, tapi tempat tinggalnyapun jauh dari tetangga, mungkin perlu berjalan sekitar 300m hingga 500m untuk bisa menemui tetangga terdekatnya.

Sungguh tak terbanyangkan, berada sedirian dipucuk bukit yang gersang tanpa TV, Radio, Hand phone ataupun tetangga yang memungkin dia untuk berbagi cerita, dengan keadaan sakit hingga tak dapat bergerak, bagaimana dia bisa menghadapinya, setiap hari selama bertahun-tahun?

Aku lihat tidak ada sepeda onthel disana apalagi sepeda motor.

Bagaimana dia memperoleh makanan? Bagaimana dia memperoleh pengobatan, boro-boro mendapatkan layanan pengobatan, mungkin selama 40 tahun itu juga mereka tidak pernah turun gunung, sementara akses ke puskesmas cukup jauh, jalannya pun sangat terjal. Perlu jarak berkilo untuk sampai di keramaian.

Tak dapat kubayangkan, mulutkupun tercekat tak sanggup lagi bertanya…

Terlalu pilu melihat keadaannya.

Baksos SDIT Anak Sholeh Sedayu

Namun meski sakit dia tidak pernah batal berpuasa di bulan ramadhan ini, bahkan bukan hanya dibulan ramadhan saja dia berpuasa, sepanjang hari, sepanjang tahun, dia terus berpuasa, tak heran tubuhnya sangaat kurus hanya tulang berbungkus kulit, apa yang dirasakannya? Apakah karena tidak ada makanan yang bisa dia makan sehingga harus selalu berpuasa? Ternyata tidak, ada beberapa dermawan yang terkadang hadir untuk memberikan santunan dan dukungan. Ternyata Mas Slamet tidak mau makan karena tidak ingin merepotkan ayahnya yang telah renta.

Aku tertunduk, terisak melihat masih ada orang-orang disekitar kita yang mengalami nasib sedemikian rupa, sementara kita disini sering membuang-buang makanan tanpa merasa berdosa. Banyak bergaya- gaya hanya untuk memuaskan nafsu belaka, sedangkan di sekitar kita ada banyak sekali orang-orang yang bahkan beli sesuap nasi saja mereka benar-benar tidak mampu.

Sambil berpamitan pulang aku berusaha menguatkan hati mereka, senyum ramah dan do’a tulus mereka telah menyiramkan rasa bahagia yang tiada terkira. Semoga Allah menyayangimu Mas Slamet.

(Kaliberotrt 4, Argumulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta).

Aku melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, di sudut yang berbeda aku bertemu dengan wanita sederhana dengan 5 orang anak yang masih balita, bukan Hal yang aneh tapi yang membuatnya berbeda adalah rumah reot dengan tumpukan baju dimana-mana bercampur dengan ayam, seolah mereka sedang bermain bersama. Kelima anak itu sebagian tampak ceria namun anak pertama dan ketiga ternyata mengalami keterbelakangan mental, duuh…

Satu persatu kami menyambangi rumah-rumah yang menjadi tujuan kami, bertemu dengan para pelaku kehidupan dengan berbagai cerita-cerita haru dan menyedihkan.

Tiba-tiba aku menjadi sangat malu, sering lupa berucap syukur atas nikmat yang tiada terhingga, sering menghujat kenapa hidup tak semudah yang kuharapkan, ternyata ada sangat banyak orang lain yang hidupnya lebih tidak mudah…

About Author

Hi sholiha how are you?
My name's Ana, full name's Siti Asmanah. I'm a nice woman who's proud to be a Housewife.

I love cooking, reading especially about spiritual motivations, writing, singing, traveling, swimming and I very much love driving.

I'm driver right? That's my big profession. Antar jemput anak-anakku sekolah, Les, ngaji, dan kemanapun mereka mau.
I love that job.

So let's talk about that, pasti sangat menyenangkan ❤️

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *