Bagaimana Agar Anak Mudah Menerima Nasihat? Lakukan 7 Hal ini!

Pandemi ini lama sekali, sudah hampir dua tahun tapi masih saja ada.

Beberapa waktu lalu ada sedikit rasa bahagia, anak-anak bisa mulai beraktivitas seperti sedia kala, kegiatan sudah mulai kembali tertata, tapi tiba-tiba PPKM lagi, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Akhirnya anak kembali belajar dirumah lagi.

Rasanya bukan hanya anak-anak yang bosan, tapi orang tua juga cukup tak nyaman, bagaimana tidak? Pelajaran sekolah yang seharusnya di lakukan oleh guru-guru di sekolah harus di handle semua oleh para orang tua, sedangkan masing-masing orang tua sudah memiliki kegiatan yang harus di lakukan.

Akhirnya siapapun hanya bisa menunggu, entah kapan pandemi ini berakhir, agar seluruh kegiatan bisa normal kembali dan anak-anak dapat bersekolah sebagaimana sebelumnya.

Namun jika di lihat dari kacamata positif, keadaan ini sesungguhnya banyak baiknya. Pembatasan demi pembatasan kegiatan keluar rumah membuat orang tua menjadi semakin dekat dengan anak-anaknya, antar anggota keluarga semakin banyak bertemu sehingga hubungan mereka menjadi semakin harmonis.

Karena pandemi pula kegiatan seminar, pelatihan menjadi banyak di lakukan melalui media online, hal ini membuat kita dapat terus menggali ilmu tanpa harus mengeluarkan biaya, waktu dan tenaga yang besar. Sebut saja seminar parenting, kita akan merogoh kocek hingga ratusan ribu hingga jutaan rupiah jika harus mengikutinya secara tatap muka, menghabiskan waktu berjam-jam bahkan bisa seharian penuh berada dalam ruang seminar.

Namun hikmah dari pandemi ini, bertebaran ilmu pengetahuan yang di sediakan secara gratis melalui media-media online atau zoom, tidak kalah menarik, sebagaimana ilmu yang saya dapatkan dari parenting online yang akan saya bagikan untuk Anda.

Kajian ini saya dapatkan dari group webinar teras PPA yaitu sebuah kajian yang rutin dilakukan oleh komunitas PPA (Pola Pertolongan Allah) yang di komandani oleh Rezha Rendy sebagai founder dari PPA.

Webinar kali ini mengusung tema tentang 7 Kunci Parenting Tauhid, dengan pembicara Aniqq Alfaqiroh, seorang konsultan, terapis dan pemerhati anak.

Artikel menarik :

Bagaimana Menyiapkan biaya pendidikan anak yang semakin melambung?

Bagaimana cara memiliki tabungan emas dengan dana terbatas?

Kunci pengasuhan
7 kunci pengasuhan anak

7 KUNCI PARENTING TAUHID

Banyak sekali tekhnik yang ditawarkan, akan tetapi ada kunci yang akan menyempurnakan teori-teori parenting yang terus berkembang saat ini. Kunci tersebut adalah Tauhid.

Sebagai orang tua muslim, pastinya salah satu cita-cita terbesar kita adalah memiliki anak  Sholih Sholihah yang tangguh. Anak yang kelak bisa menjadi amal jariyah dan menjadi penerus dakwah kita. Dan untuk mencapai tujuan tersebut, tauhidlah kuncinya.

Bagaikan sebuah bangunan, seindah apapun ia jika tidak ditopang oleh pondasi yang kuat maka ia akan mudah rapuh dan roboh.

Begitupun dalam menemani perjalanan hidup anak jika kita tidak menguatkan pondasinya maka ia akan mudah rapuh.

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 9)

Jangan menganggap anak sebagai miniatur kita. Kemudian kita merasa pantas dan berhak memaksakan kehendak diri padanya, karena syahwat dan keinginan kita belum tentu yang terbaik menurut Allah SWT. Jika kita bisa memahami konsep dalam pengasuhan bahwa anak bukan untuk menjiplak diri kita maka hadiahnya adalah Kita akan mudah welcome dalam mendampingi fase tumbuh kembang anak dan nggak mudah stres/capek dalam mengasuh mereka.

1. Visi Misi Pengasuhan

Visi = (Iman & Takwa)

Karena anak punya Allah maka cintai ia cukup karena Allah, jangan sampai porsi cinta kita lebih besar ke anak dan pasangan dibanding Allah dan rasul-Nya

Para Nabi terdahulu, kekasih Allah bahkan para sahabat, mereka punya pola yang sama dalam pengasuhan. Mereka terus bergerak dan memastikan bahwa anak-annya dari waktu ke waktu semakin taat pada Allah Azza wa Jalla. Jaga anak agar selalu bisa beriman dan bertaqwa padaNya.

2. Merawat Fitrah Anak

Tugas kita sekedar merawat fitrah ini bukan menggunakan cara-cara diri yang selalu tergesa-gesa dan memaksakan kehendak.

▪️Fitrah Keimanan

▪️Fitrah Belajar dan Bernalar

▪️Fitrah Bakat dan Kepemimpinan

▪️Fitrah Seksualitas dan Cinta

▪️Fitrah Estetika dan Bahasa

▪️Fitrah Individualitas dan Sosial

▪️Fitrah Jasad dan Gerak

▪️Fitrah Perkembangan

Anak yang mau bergerak dan bertanya itu tandanya ia lagi menjaga fitrahnya tumbuh, maka sebagai ayah bunda dapat menjaganya dan merawat fitrah itu bukan memarahinya, namun berilah ia kesempatan dan penjelasan.

3. Dahulukan Taubat sebelum Obat

Ketika mengalami suatu persoalan dalam pengasuhan jangan segera fokus mencari solusi namun banyak-banyaklah bertaubat sambil ikhtiar mencari akar persoalan dan menyelesaikannya. Berlatih untuk muhasabah diri dan kembali pada Allah.

4. Teladan

Anak itu adalah peniru yang hebat dan ulung, anak adalah duplikasi dari setiap apa dan bagaimana orang tua bersikap dan berbuat, maka menjadi teladan yang baik ada kunci dari setiap pengasuhan.

“Anak bisa jadi salah mendengar namun ia nggak mungkin salah mencontoh.”

Kalau ingin anak nggak marah-marah maka sebagai orang tua wajib untuk nggak marah-marah.

Kalau ingin anak rajin sholat maka orang tua yang lebih dulu sholat tepat waktu Dll.

“Sering kali kita menuntut anak agar sholeh dan sholehah namun kita jarang menuntut diri agar sholeh”

5. Kedekatan

Disamping sebagai teladan, orang tua juga harus memiliki kedekatan terhadap anak. Jika orang tua hanya memberi teladan tanpa keakraban maka sang anak akan sangat mudah melawan orang tua dimasa depan. Nasehat apapun akan mudah diterima jika kita punya ikatan hati yang kuat dgn anak, begitupun sebaliknya. Maka pastikan sebelum menasehati anak, kita sudah memiliki kedekatan dengannya.

6. Komunikatif

Belajar dari kisah Nabi Ibrahim yang ketika bermimpi, kemudian dalam mimpi beliau diperintahkan untuk menyembelih anaknya Ismail. Walaupun seorang nabi beliau tetap meminta pendapat sang putra yaitu Nabi Ismail.

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

(QS. As-Saffat : Ayat 102)

MaasyaAllah 😇

Berkomunikasi dengan anak bukan sekedar tahu bagaimana menyampaikan hal-hal yang baik namun juga tahu kapan harus mendengarkan mereka tanpa harus berkata apapun.

7. Dukungan Emosional

Setiap anak ternyata membutuhkan dukungan minimal 5 orang terdekatnya setiap hari.

Namun sebagian dari kita sering kali memaharahi anak, bagaimana mungkin ia merasa tersupport saat dimarah? Keadaan ini membuat anak merasa lebih dekat dengan teman-temannya. Oleh karena itu pastikan orang tua menjadi salah satu dari 5 orang terdekatnya.

Hindari hanya menerima anak saat berprestasi saja namun jangan hanya diam ketika mereka mendapatkan prestasi sekecil apapun, berikan apresiasi, tunjukkan kebahagiaan kita atas pencapaiannya.

Dan diantara 7 hal yang sangat penting ini, masih ada hal yang tak kalah pentingnya yaitu maafkan anak apabila melakukan kesalahan, terima mereka dengan penuh cinta, berilah nasihat dengan tulus, doakan selalu dalam setiap sujud kita, terima dan ridholah terhadap keberadaan mereka karena hanya dengan ridho orang tua, Allah menjadi ridho kepada anak-anak.

“Dari Abdullah bin Amr radliallahu `anhuma dari Nabi shallallaahu `alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Ridho Allah terdapat pada ridho orang tua, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya orang tua.” (HR. Tirmidzi).

Semoga kita di karuniai keihklasan dalam pengasuhan, semoga kita di karuniai anak-anak Sholeh-sholeha yang tangguh, yang bertaqwa dan anak-anak yang sanggup meneruskan dakwah menegakkan panji-panji agama Islam.

Artikel terkait :

Cara mudah mengajak anak berhijab

Bagaimana agar anak senang menghafal Al-Qur’an